DUC IN ALTUM

Refleksi Seorang Staff CUMI

Elias Laba

Duc in Altum, mempunyai arti bertolak ke tempat yang (lebih) dalam. Kalau kita membaca Kitab Suci, kalimat ini dipakai oleh Yesus ketika Ia melihat Simon (Petrus) dan nelayan-nelayan lain tidak mendapat tangkapan ikan hari itu (Luk. 5:1-11). Ia meminta Simon bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya.

            Duc in Altum kiranya sedikit banyak menggambarkan perkenalan dan keikutsertaan saya dalam program CUMI yang tengah dirintis oleh Rm. Sumarwan, SJ dan para aktivis. Pada awal bulan November 2009, Rm. Marwan, SJ sedang mengadakan kunjungan ke rumah umat di lingkungan tempat saya tinggal. Ketika dalam pembicaraan dengan keluarga saya, beliau melontarkan program CUMI yang tengah dirintisnya dan sedang mencari seorang staff yang full time mengurus CUMI. Pada saat itu, saya bertanya beberapa hal tentang CUMI dan persyaratan yang diberikan jika ingin melamar sebagai staff CUMI.

            Setelah Rm. Marwan, SJ pamit untuk kembali ke pastoran, saya merenungkan peluang yang diberikan oleh Romo. Selama beberapa hari saya memikirkan hal tersebut. Jujur saja, satu hal yang mengganjal di pikiran saya saat itu, apakah jika bekerja di lingkungan Gereja, saya bisa membantu ekonomi keluarga? Beberapa bulan sebelumnya, ayah saya pensiun dari pekerjaannya karena faktor umur. Untunglah, ibu saya masih bekerja sehingga masih ada penghasilan untuk keluarga. Inilah mengapa timbul pergulatan di dalam hati saya atas peluang yang diberikan Romo.        

            Setelah beberapa hari merenung, saya pun mengambil sikap. Saya yakin kunjungan Romo ke rumah saya adalah kunjungan Yesus sendiri. Yesus datang ke rumah saya dan meminta bantuan saya untuk menyampaikan kabar sukacita-Nya kepada banyak orang miskin. Yesus tahu bahwa saya mempunyai kepedulian yang besar kepada orang miskin dan untuk itulah Ia secara khusus datang kepada saya. Demikian pula yang terjadi pada Simon ketika diminta Yesus bertolak ke tempat yang dalam. Simon pun merasa galau dengan perintah Yesus—kerena Simon merasa lebih berpengalaman sebagai nelayan—namun ia tetap mendayung perahunya ke tempat yang dalam karena yakin Yesus adalah guru yang tidak akan menyesatkan dirinya.

 Penuh tantangan

            Rupanya untuk memaknai kata-kata Yesus, “bertolaklah ke tempat yang dalam”, bukanlah tanpa hambatan. Mengenal dan melakoni program CUMI ternyata membutuhkan sesuatu yang lebih bila dibandingkan bekerja di sebuah perusahaan.

Saya masih ingat ketika pertama kali belajar berenang. Saya berani berenang di tempat yang dangkal karena tidak takut tenggelam. Namun ketika harus berenang ke tempat yang dalam, saya merasa takut, jangan-jangan nanti tenggelam. Demikian pula  ketika saya memberanikan diri untuk bertolak ke tempat yang dalam, seringkali jalan yang saya lalui terasa gelap. Saya berjalan sambil meraba-raba dan belajar mengenali keadaaan bukan hanya dengan pancaindera namun juga dengan hati. Inilah pelajaran penting yang saya dapatkan sejak menjadi staff CUMI, yaitu dibutuhkan kesungguhan hati untuk membantu kaum miskin. Selain itu, saya dituntut pula untuk semakin sabar, tekun, bersedia mendengarkan keluhan anggota, dan lebih proaktif dalam mendampingi anggota.

            Pada awalnya, saya membayangkan CUMI dapat berjalan sesuai dengan standar operasional CUMI yang telah disusun oleh team. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Tantangan bagi staff dan pendamping dimulai ketika penerimaan anggota baru. Seringkali calon anggota tidak berminat dengan CUMI karena harus membentuk kelompok dan mengikuti pendidikan. Calon anggota lebih senang meminjam atas nama pribadi dan bukan berkelompok karena ribet. Tantangan terbesar justru muncul ketika seseorang sudah diterima menjadi anggota CUMI. Sebelum anggota mendapat pinjaman, ia akan semangat mengikuti pertemuan mingguan. Namun setelah mendapat pinjaman, kebanyakan anggota mulai mengendur semangatnya untuk mengangsur dan datang ke pertemuan mingguan. 

Patut disyukuri, kemacetan pengembalian pinjaman hanya dilakukan oleh segelintir anggota. Saya seringkali merasa jengkel dengan anggota yang lalai mengangsur. Anggota yang semacam ini mempunyai beragam alasan ketika dikunjungi oleh staff dan diminta untuk mengangsur kembali. Beberapa cara telah coba dilakukan untuk mengurangi resiko kemacetan. Kami menentukan tempat pertemuan bersama untuk mengangsur. Karena sedikit yang datang ke tempat pertemuan, kami pun memindahkan tempat pertemuan ke rumah anggota. Di wilayah tertentu, cara ini dapat berjalan namun di wilayah lain tidak. Kesimpulan sementara yang dapat diambil dari situasi ini adalah sebelum menjadi anggota CUMI, mereka dapat dengan mudah mengakses rentenir yang cepat memberi pinjaman dan tidak banyak prosedur yang harus dilalui. Selain itu, debt collector akan datang mengambil setoran setiap hari sehingga tidak mengenal istilah pertemuan layaknya CUMI.

Tetap ada cahaya

            Kalau saya hanya bercerita tentang tantangan yang dihadapi, tentu Anda akan merasa skeptis; apakah CUMI akan tetap bertahan? Atau mungkin saja Anda akan mengurungkan niat membantu mereka yang miskin karena resiko yang dihadapi. Secara pribadi saya berani mengatakan Anda salah kalau sampai tidak menolong orang miskin karena takut menanggung resiko. Paling tidak sampai saat ini, saya masih tetap bertahan mengembangkan CUMI karena merasakan pengalaman membahagiakan melihat anggota CUMI yang baik. Sejak awal saya mengatakan bahwa kemacetan pinjaman yang terjadi hanya dilakukan oleh sebagian kecil anggota. Sedangkan sebagian besar anggota dapat dipercaya mengelola pinjaman yang diberikan.

Sebagai gambaran, sampai dengan Maret 2010, CUMI Blok Q mempunyai 32 kelompok dengan jumlah anggota 164 orang yang terdiri dari 149 orang perempuan dan 15 orang laki-laki. Total pinjaman yang telah dikucurkan sejak berdiri sebesar Rp.176.500.000,- dengan total pengembalian pinjaman sebesar Rp.133.694.100,-. Total tabungan anggota sebesar Rp.25.237.850,-. Adapun aset yang dimiliki CUMI sebesar Rp.84.329.400,-. Data-data tersebut masih dapat berubah karena selama bulan April ada penambahan anggota dan pemberian pinjaman. Hal ini menunjukkan bahwa CUMI masih dapat berkembang.

Hal lain yang menyejukkan hati di tengah pesimisme banyak orang adalah pada saat mendampingi anggota. Suatu kali ada seorang ibu yang bergabung dengan CUMI. Sebelum bergabung dengan CUMI, ibu ini sudah mempunyai banyak pinjaman di beberapa rentenir. Para aktivis CUMI dengan tekun berusaha mendampinginya dalam mengelola keuangan. Kini ibu tersebut sudah tidak lagi menjadi anggota CUMI. Namun yang membahagiakan para aktivis adalah ibu itu sudah terbebaskan dari jerat rentenir dan memilih masuk CUBG. Saya juga merasa terhibur ketika melihat Ibu Asmaya dan Ibu Masliah, walaupun sudah tua namun setiap minggu rajin datang ke pertemuan bahkan sebelum saya sampai, mereka sudah menunggu. Belum lagi ketika datang mengecek penggunaan pinjaman, saya mendapati anggota yang dulu tidak berjualan karena tidak ada modal, kini sudah mulai berjualan kembali. Pengalaman-pengalaman ini meyakinkan saya bahwa tidak semua anggota bermasalah. Dari pihak staff dan para aktivis dituntut untuk menjadi teman seperjalanan orang miskin dengan lebih proaktif menyapa dan menyemangati mereka.

Terus berjuang

            Sekali waktu, saya membayangkan seandainya Yesus berkarya di jaman ini dan di kota Jakarta, apakah Yesus dapat membantu menyelesaikan permasalahan anggota-anggota CUMI? Kehidupan kota Jakarta seringkali membuat hidup orang miskin berpacu dengan waktu untuk mencari uang. Apakah Yesus juga akan merasa down menghadapi berbagai persoalan yang muncul?

            Ketika saya merefleksikan hal tersebut, saya melihat bahwa Yesus juga bukan pewarta yang sukses. Orang-orang yang telah ditolong dan disembuhkan oleh-Nya malah berbalik menghujat Yesus dan menyalibkan Dia. Usaha pewartaan-Nya pun bukan tanpa halangan. Orang Farisi dan ahli Taurat selalu mengintai dan mengincar kalau-kalau Yesus melakukan atau mengeluarkan pernyataan yang menghujat Allah. Peristiwa ini mirip dengan calon kelompok di Kemang, Jakarta Selatan yang akhirnya bubar. Isu yang berkembang, kelompok bubar karena tekanan dari orang luar yang berburuk sangka dengan CUMI.

Titik balik yang menguatkan saya, paling tidak untuk saat ini, bertahan dalam CUMI adalah kisah Yesus yang berdoa di Taman Getsemani pada malam sebelum disalib. Saya melihat pada saat itulah Yesus merasa gagal total dalam mewartakan Kerajaan Allah namun dengan keyakinan bahwa Bapa akan menolong, Ia tetap menjalani apa yang telah diserukan para nabi bahkan sampai wafat di salib.

Pada akhirnya, saya berharap semakin banyak orang yang mau melibatkan dirinya dalam program-program semacam CUMI agar semakin banyak orang miskin tertolong. Kisah Simon Petrus bukan hanya kisah panggilan bagi kaum berjubah namun kisah ini merupakan kisah panggilan bersama yang diminta Yesus kepada orang-orang yang mau mengikuti-Nya: kita dipanggil menjadi penjala manusia seperti yang diamanatkan kepada Simon Petrus. 

Elias Laba – Staff CUMI Blok Q”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s