GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN HATI SEORANG IBU

Artikel ini saya tulis untuk didedikasikan kepada Ibu Brigitta Imam Rahayoe, mantan ketua PSE yang amat peduli dengan proyek-proyek pemberdayaan yang dilakukan di gereja Santa, yang telah purna karya. Tulisan ini juga menjadi bagian dari sebuah buku yang telah di terbitkan oleh Seksi Pengembangan Sosial (PSE) Gereja Santa Perawan Maria Ratu – Blok Q – Kebayoran Baru – Jakarta Selatan,  dengan judul : Servire In Laetitia At Caritate.


Oleh : Nikolaus Hukulima – Aktivis CUBG/CUMI Blog Q.

Di Kantor Pusat Grameen Bank - Dhaka - Bangladesh

Hal yang paling saya syukuri saat ini adalah menerima ajakan romo Marwan kala itu untuk bergabung menjadi relawan CUBG/CUMI. Jujur, keputusan mengiakan ajakan tersebut lebih karena perasaan tidak enak hati kepada romo yang saya kagumi. Saya sendiri sudah puas dengan menjadi anggota di 2 koperasi sehingga tidak tertarik lagi bergabung di tempat lain. Ternyata keputusan tersebut membawa saya menggapai banyak pengalaman amat berharga dengan banyak orang yang mewarnai perjalanan hidup saya yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Awal bergabung, bersama romo dan teman-teman relawan yang lain kami mencoba menginventarisir beberapa hal seputar bagaimana memajukan CU yang telah ada. Kenapa CU? Dari sudut pandang sosial-komunal, kehadiran CU menjadi bentuk solidaritas nyata yang menghadirkan sarana perjumpaan tidak saja dengan sesama saudara seiman tetapi juga dengan umat beragama lain, dalam bentuk dialog karya. CU memberi kesaksian dan tanda bahwa kita hadir sebagai gerakan yang tujuannya demi kesejahteraan umum dan bersifat inklusif (terbuka untuk umum). Hal lain, CU sebagai medan untuk mengkonkritkan habitus baru dan mewartakan nilai dengan ajakan menomorsatukan menabung dan meminimalkan pengeluaran tak mendesak.

Titik balik

Dasar pemahaman inilah kami yakin dapat melakukan ‘sesuatu’ walaupun kecil untuk membantu gereja/PSE mewujudkan umat/masyarakat yang lebih sejahtera. Mulailah kami membuat rencana-rencana untuk mewujudkan visi dan misi diatas. Namun hal pertama yang justru kami hadapi adalah kenyataan bahwa umat gereja Blok Q pernah punya pengalaman “tidak mengenakan” dengan koperasi. Hal ini tergambar dari kenyataan bahwa hampir satu tahun keberadaannya (CUBG), seolah berjalan ditempat.

Hidup segan mati tak mau adalah istilah yang tepat untuk kondisi saat itu. Maka tugas pertama kami adalah turun langsung ke lingkungan-lingkungan untuk menyampaikan kabar baik tersebut dengan berusaha meyakinkan kembali hati banyak orang bahwa manfaat CU amat besar. Diantaranya adalah  untuk menyelamatkan dan mengembangkan uang, menyediakan beberapa produk simpanan dan pinjaman, dana kematian, pinjaman untuk modal usaha, untuk para pedagang bakul kecil, juga pinjaman konsumtif untuk membeli sepeda motor, laptop, perbaikan rumah yang rusak, kontrak rumah, biaya masuk Rumah Sakit, biaya pendidikan anak dan lain-lain. Hasilnya terlihat kini; anggota terus bertambah.

CUBG semakin menjadi pilihan. Itu sebuah kenyataan kini. Namun hal yang masih menjadi pergumulan dan tidak boleh dilupakan adalah CU harus menjangkau lebih banyak orang terutama masyarakat prasejahtera. Kenyataan bahwa untuk masuk ke CUBG amat mahal untuk kelompok masyarakat tertentu, menjadi kegalauan lain dari para pegiat CUBG blok Q. Beberapa   pertanyaan masih terus mengganggu; bagaimana dengan kelompok masyarakat yang berdagang di sekeliling gereja? Bagaimana dengan kelompok umat lainnya yang telah puluhan tahun menerima santunan dari gereja (baca PSE)? Mereka ini memiliki keinginan kuat untuk bergabung ke CUBG. Namun dengan dana awal yang nilainya amat besar, mereka tetap kesulitan. Jalur Kapitalisasi? Mereka amat pesimis karena harus menunggu waktu yang lama (pinjaman lunas) barulah boleh mendapat pinjaman modal, sementara mereka harus segera mendapatkan dana untuk meneruskan usaha kecil mereka agar asap dapur tetap mengebul. Maka harus ada inovasi lain untuk mengakomodir persoalan ini.

Inovasi untuk solusi

Credit Union Microfinance Innovation atau yang lebih di kenal dengan CUMI menjadi terobosan pertama. Program ini sengaja mereplikasi system yang sudah berjalan sangat bagus di Bangladesh, tentu dengan penyesuaian sana-sini. Titik tekannya ada pada; tidak memerlukan sejumlah uang  terlebih dahulu untuk masuk menjadi anggota, harus dalam kelompok, dan telah memiliki usaha-usaha kecil, atau paling kurang mempunyai niat dan semangat yang kuat untuk memulai suatu usaha secara mandiri.

Seperti gayung bersambut, inovasi ini diterima dengan baik. Tidak saja dikalangan masyarakat prasejahtera, terlihat dari betapa antusiasnya para usahawan kecil yang selama ini mengakses modal dari rentenir, tetapi juga dari beberapa orang dermawan yang rela menghibahkan sejumlah dana pribadi untuk mengembangkan program ini.  Pelan tapi pasti CUMI mulai mendapat tempat di hati umat.

Persoalan lain yang harus diperhatikan adalah, kelompok umat gereja di Blok Q yang telah puluhan tahun menerima santunan dari PSE. Perlu inovasi lain. PSE dengan CUBG kemudian bersinergi. Hasilnya adalah program yang kelak kita kenal sebagai “Anggota CUBG Kelompok Dampingan”.

Sejak April 2009 sebanyak 67 orang penerima santunan dari PSE dibantu menjadi anggota CUBG. Program yang dirancang tetap memuat aspek pemberdayaan ini, memungkinkan mereka langsung masuk menjadi anggota CUBG secara tunai. Semua dana dibayarkan oleh PSE. sebagian sebagai hibah dan sebagian lainnya sebagai pinjaman yang harus diangsur selama 3 tahun. Agar tidak memberatkan, jumlah santunan dinaikan. Selama 3 tahun kedepan kelompok ini terus menerus akan didampingi. Melalui pendampingan, anggota dibekali beberapa ketrampilan praktis bagaimana memulai atau menjalankan sebuah usaha kecil secara baik dan benar. Target dari program ini adalah setelah 3 tahun anggota CUBG dampingan ini telah mandiri dan dilepaskan menjadi usahawan-usahawan kecil yang handal yang mampu mensejahterakan hidup diri mereka sendiri dan keluarga tanpa perlu lagi menerima santunan dari PSE.

Lilin kecil

Segala daya upaya diatas mendapat dukungan sangat besar dari para warga gereja. Para romo, Dewan Paroki, dan Karyawan gereja mengambil peran menjadi angora CUBG. Bahkan  romo Marwan kini menjadi ketua Penasehat CUBG. Semua memberi teladan dengan mengambil peran masing-masng sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya, mempromosikan diberbagai kesempatan. Ada pula yang mendukung dengan cara mennyertakan modal atau menghibahkan modal.

Di balik semua gerakan permberdayaan tersebut, Pengembangan Sosial Ekonomi atau yang disingkat PSE,  adalah lilin kecil. Sinarnya walaupun redup mampu memberi sedikit asa untuk menerangi kegelapan malam. Ruangan ber-AC dilengkapi berbagai fasilitas seperti meja, kursi dan computer dipinjamkan untuk proyek-proyek pemberdayaan ini. Tidak itu saja, secara konsisten PSE melakukan berbagai gerakan, antara lain memfasilitasi pelatihan-pelatihan praktis kewirausahaan, seminar-seminar, bazar murah, pengolahan sampah, dan masih banyak yang lainnya.

Dibalik itu semua, terdapat figur-figur luar biasa yang tidak bisa dilepaspisahkan. Romo Marwan sebagai moderator PSE dengan sadar mengabaikan anjuran para koleganya untuk tidak terlibat langsung  sebagai pengurus atau pengelola (CUBG). Malah justru tertantang untuk maju ke garis depan atau frontier pelayanan.

Figur luar biasa lainnya adalah ketua PSE; ibu Brigitta Imam Rahayoe. Sosok dermawan yang rendah hati ini memiliki kepedulian mendalam dan konsisten terhadap pemberdayaan masyarakat miskin. Tidak saja melalui kata-kata atau ide namun juga ia rela turun gunung, memastikan semuanya berjalan dengan baik. Bahkan tak jarang ia menjadi bagian dari pelaksanaan rencana-rencana tersebut. Itu semua dia buktikan dengan mengalahkan ego pribadinya untuk pergi ke Bangladesh, negara yang mungkin tidak pernah masuk dalam hitungannya untuk dikunjungi karena reputasinya di bidang kemiskinan, mau sungguh-sungguh belajar tentang bagaimana Prof. Yunus dengan komitmen tinggi turun langsung ke lapangan untuk berusaha mengangkat mereka yang lemah dan miskin secara ekonomi, memapah mereka untuk bangkit, langkah demi langkah menapaki tangga kesejahteraan dimana mereka harus bertumpuh pada diri mereka sendiri.

Pemberitahuan mba Dewi (bendahara PSE) melalui SMS mohon menyumbangkan sebuah tulisan untuk didedikasikan kepada ibu Brigitta, menyisahkan tanya dalam benak saya sore itu; akan segera berakhirkah masa pengabdian  Ibu Brigita di PSE? Secepat itukah? Mungkin memang periode pengabdiannya sudah berakhir… namun ketika menengok sejenak kebelakang terutama pengalaman kebersamaan yang singkat dengan ibu Brigita ketika sama-sama ke Bangladesh, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Saya mencoba membuka kembali lembaran-lembaran ingatan akan pengalaman kebersamaan itu.

 Ketika program “mengantar umat gereja Blok Q penerima santunan dari PSE menjadi anggota CUBG, disitulah kesempatan amat baik untuk bertemu sekaligus berdiskusi tentang program yang akan segera di implementasikan. Dalam rapat-rapat persiapan, ketika saya mempresentasikan beberapa hal yang nanti akan dijalankan termasuk batas waktu tertentu mereka akan diputuskan tidak lagi menerima santunan dari PSE, terlihat sekali kegalauan hati ibu Brigitta. Beberapa  pertanyaan yang sempat dilontarkan menggambarkan hal itu. Antara lain; apakah mereka nanti bisa mengangsur, apakah mereka tidak akan marah, atau kalau kita hentikan bantuan dari PSE, bagaimana nasib mereka? Kekhawatiran seorang ibu berhati emas akan nasib “anak-anaknya”.

Bangladesh dalam kenangan.

Suatu sore setelah selesai acara hari itu di Kantor Pusat Grameen Bank, dan pulang ke hotel tempat kami menginap, saya berkesempatan duduk bersebelahan dengan beliau. Saya mengajukan beberapa pertanyaan seputar upaya-upaya pemberdayaan masyarakat miskin di Gereja Santa. Dengan lugas beliau mengutarakan keprihatinannya. ”Santunan tunai dari PSE yang selama puluhan tahun berjalan, kiranya sangat menggelitik rasa setiap orang untuk berbuat sesuatu yang lain lebih baik lagi. Program yang selama puluhan tahun diyakini sebagai sesuatu yang amat baik, kini disadari hanyalah sebuah gerakan karitatif yang tidak lebih dari melestarikan kemiskinan. Cara ini dipandang tidak lagi efektif  karena hanya menjadi semacam bantalan kursi agar tidak terjungkal, tetapi sesungguhnya bukan mengatasi masalah penghasilan orang miskin. Sama sekali tidak membantu mereka untuk semakin mandiri. Selain itu, program ini juga menimbulkan dampak lain yaitu mental menadahkan tangan dan barangkali juga mental mengakali, karena banyak orang yang tidak masuk kategori miskin, tanpa malu mensiasati diri untuk kemudian memperoleh bantuan tersebut”.

Telah setahun berlalu. Namun pengalaman kecil ini masih kuat tersimpan dalam ingatan. Suatu malam sepulang dari live-in dari kantor cabang Grameen, kami berempat (saya, Romo Marwan, mas Yohanes dan mas Joko) duduk santai di depan kamar hotel sambil cerita ngalor ngidul seputar pengalaman satu minggu tinggal di kantor cabang. Setelah beberapa saat saya masuk kamar untuk memeriksa handphone jangan-jangan ada yang telepon atau SMS.  Benar saja, deretan misscall beberapa kali plus satu SMS (saya masih simpan sampai sekarang) masuk ke HP saya.  Bunyi SMS itu : “Aku and Rebecca tilpun kamar kalian tapi ga diangkat. Mau ditraktir di Westin Hotel tapi rupanya bukan rejeki hehehe…” Sontak isi SMS itu saya sampaikan kepada teman-teman yang lain. Reaksi berikutnya adalah “menyesal”. Menyesal karena pengalaman hampir ditraktir di sebuah hotel berkelas plus di luar negeri pula yang terlewatkan itu tidak pernah lagi akan terulang. Namun penyesalan itu seolah tanpa makna ketika mengenang kembali hal-hal baik lainnya sejak berangkat ke Bangladesh hingga pulang. Ditraktir minum kopi di Bandara Soekarno-Hatta,  lalu di Changi-Singapore, wisata 1 hari di Dhaka, 1 hari di Singapore, dan lain-lain, menceritakan betapa Ibu Brigitta adalah sosok pengusaha yang sangat dermawan. Semakin lengkaplah gambaranku tentang kebaikan hatinya ketika seminggu kemudian sepulang dari Bangladesh, melalui SMS mengabarkan kalau sedang mengantar/mendampingi seluruh karyawan/karyawatinya mulai dari tingkat paling rendah sampai level atas berlibur ke Hongkong. Dalam hati aku bergumam; andai aku juga adalah karyawannya…. Betapa hati seorang ibu yang sangat baik.

Tentang kebaikan ini,  kembali saya teringat sebuah artikel yang saya baca beberapa waktu yang lalu. Seorang milyoner Austria, Karl Rabeder, memberikan setiap sen kekayaanya senilai total 3 juta poundsterling atau setara Rp 50 miliar setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia. Semua uang akan disalurkan untuk usaha kredit mikro yang menawarkan pinjaman skala kecil kepada warga Amerika Latin dan membangun bantuan strategis untuk pemberdayaan diri orang-orang di El Salvador, Honduras, Bolivia, Peru, Argentina, dan Cile. “Rencana saya adalah untuk tidak menyisakan apa pun, tidak memiliki apa pun,” katanya kepada The Daily Telegraph pada awal pekan ini. “Uang itu kontra produktif, uang menghalangi datangnya kebahagiaan.” (Kompas.com, Jumat, 12 Februari 2010). Diakhir tulisannya dia mengatakan; “saya tidak memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama yang telah saya buat. Saya hanya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya yakini”.

Ilustrasi ini agak ekstrim memang. Tetapi paling tidak sampai pada tingkat tertentu Ibu Brigitta telah melakukannya melalui banyak hal untuk orang miskin. Bukan saja soal bantuan keuangan, tetapi lebih dari pada itu, pemberian diri secara konsisten untuk gerakan pemberdayaan. Semoga “keanehan” ini mampu menginspirasi lebih banyak orang untuk setidak-tidaknya melakukan sesuatu, sekecil apapun bagi sesama demi kesejahteraan umat manusia.

Kini… dia akan purnakarya sebagai ketua PSE. Jejak yang telah dia torehkan membuat banyak orang miskin kembali tersenyum dari kepahitan hidup. Juga telah menginspirasi banyak orang berpunya untuk turut serta berbuat sesuatu melalui gerakan pemberdayaan yang mulai mentas di gereja Santa yang kita cintai. Komitmen mendalam untuk gerakan pemberdayaan yang telah beliau perlihatkan  akan selalu dikenang, tidak saja dalam ingatan tetapi juga untuk diteruskan, walaupun toh..ibu Brigitta pada akhirnya tetap  akan  pergi. Terima kasih atas pengabdian ibu, semoga karya-karyamu dimanapun selalu diberkati Tuhan.

Jalan Bangka, 15 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s