MENGGAPAI MIMPI BESAR DALAM USAHA-USAHA KECIL

Oleh : Margareta Peni Tolok

PENDAHULUAN

Paguyuban adalah sebuah istilah Jawa dari kata “Guyub” yang artinya hidup. Paguyuban digunakan untuk menyebut suatu kelompok manusia yang dinamis atau hidup karena diwarnai oleh bermacam ragam kegiatan yang kreatif dan inovatif.

            Arisan Lejap Nujan juga pantas kita namakan sebuah paguyuban, karena dari waktu ke waktu kelompok ini selalu menambah dan menampilkan produk-produk baru dari anggota, oleh anggota dan demi kepentingan anggota. Dari arisan tradisional yang dahulu dikeluhkan oleh sebagian mantan anggota karena secara ekonomis ternyata dihitung rugi atau pengeluaran untuk transport lebih besar dari pada arisan yang diterima. Kini kita patut berbangga dengan keinginan dan kemauan untuk merubah arisan jenis tradisional menjadi semakin bermanfaat bagi kita para anggota, yaitu dengan keberanian melahirkan produk-produk baru yaitu Simpan-pinjam, tabungan pendidikan anak, kupon sosial, dan tabungan pernikahan dini.

            Tetapi permasalahannya, apakah kita sungguh-sungguh memahami makna dan manfaat dari apa yang kini sedang terjadi karena kemauan dan perbuatan kita sendiri ataukah kita semakin merasakan sebagai beban lalu menjadi pasif dan mulai menarik diri sedikit demi sedikit dari kelompok arisan?

            Kalau ada anggota yang merasa rugi lalu mengundurkan diri, sangat disayangkan. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menggaris bawahi beberapa hal prinsipil yang perlu kita pahami bersama, sehingga keutuhan kelompok ini sebagai suatu keluarga besar jangan semakin mengecil dan akhirnya bubar hanya karena alasan terbebani.

Asal dan Tujuan Arisan Lejap Nujan

Dari penuturan beberapa senior kita bahwa arisan ini lahir dari keinginan untuk mempererat anggota-anggota keluarga Lejap Nujan yang juga memiliki rasa tidak puas terhadap arisan-arisan sebelumnya yang diadakan bersama kelompok lain. Jadi rupanya kelompok arisan ini pertama bukan bertujuan ekonomis ( = uang ) melainkan kekeluargaan dan persaudaraan yang mana dari persaudaraan sempit (mempunyai ikatan kekerabatan) berkembang menjadi persaudaraan universal – terbuka untuk siapa saja. Alasan dasar ini yang sering dilupakan didalam perjalanan arisan.

Ada yang merasa rugi membuang ongkos sekian rupiah setiap bulan untuk bertemu dengan “saudaranya”. Ada yang merasa gerah kalau setiap arisan selalu ditagih ini dan itu yang belum lunas, sehingga merasa lebih aman tidak usah datang saja. Apalagi di dalam arisan sering terlontar istilah yang sangat enak di dengar oleh mereka yang mempunyai tunggakan “Saudara sih saudara, tetapi uang tidak mengenal saudara tau !”

            Tetapi di sisi yang lain, bila tunggakan berupa pinjaman tidak diangsur secara tetap atau arisan tidak dibayar tetap pada waktunya, juga merugikan saudara-saudara yang seharusnya berhak menerima uang arisannya, atau uang yang dipinjamkan dapat dipinjam lagi oleh anggota yang lain. Maka mereka yang menerima kurang pun akan berkilah “ Saudara sih saudara, tetapi masa sih saya terimanya kurang melulu”.

Kegiatan arisan yang pada mulanya mempunyai tujuan untuk mempererat tali persaudaraan akhirnya berkembang bersama tujuan ekonomis demi anggota juga. Produk-produk yang ditampilkan memang demi kepentingan anggota, tetapi mungkin ada kesalahan prosedur sehingga menjadi beban bagi anggota yang penghasilannya tetap, pas-pasan sementara di dalam keluarga pengeluaran semakin besar karena tuntutan kebutuhan akan pendidikan anak yang semakin besar dan harga kebutuhan pokok dan lain-lainnya semakin melambung. Maka meskipun produk yang ditawarkan bagus dan penting demi kepentingan anggota, asas bebas dan sukarela tetap juga diterapkan di dalam arisan yang mencoba mengadopsi system Credit union.

Produk-produk Arisan Lejap Nujan

1.      Arisan Tradisional

Bentuk arisan ini meskipun tradisional namun sangat penting karena berperan sebagai wadah pemersatu untuk semua kegiatan yang lain. Tanpa arisan ini, kegiatan yang lain tidak dapat dijamin bahwa akan berjalan dengan tertib. Nilai uang yang ditentukan untuk arisan ini sudah dinaikkan sehingga anggota yang menerima juga tidak terlalu kurang, atau minimal seimbang dengan transport yang dikeluarkan selama satu periode untuk mengunjungi sesama saudara.

 2.   Kupon Sosial

Bentuk dan system yang dipakai tetap itu-itu juga, tetapi produk ini telah berperan sesuai fungsi sosialnya. Misalnya menambah dana sumbangan pembangunan gereja di Watuwawer, dan memberi santunan kesehatan sesuai ketentuan kepada anggota keluarga yang sakit.

 3.  Simpan – Pinjam

Ini adalah produk unggulan arisan karena sudah lebih banyak membantu anggota dalam berbagai keperluan terutama pendidikan dan kesejahteraan. Dari pinjaman 500 ribu, kini sudah mampu memberi pinjaman beberapa juta kepada anggota adalah suatu prestasi yang patut dibanggakan.

Namun ilustrasi perkembangan dana yang pernah saya uraikan ketika kita akan menerapkan system simpan pinjam, tampaknya belum memenuhi target. Kekurangan itu tampak di dalam beberapa kendala, antara lain :

  1. Kredit macet ; ada anggota yang lalai atau tidak mengangsur pinjaman tepat waktu.     Kelalaian tersebut tidak hanya sekedar mengganggu pembukuan panitia kredit, tetapi merugikan keuangan arisan secara keseluruhan. Apalagi sampai ditagih berulang-ulang dan itupun belum dipenuhi. Mengantisipasinya melalui pendidikan dan penerapan aturan peminjaman yang lebih ketat. Pendidikan tidak mengajar orang untuk meminjam lalu kabur, melainkan mendidik anggota untuk mengelola keuangannya secara benar di dalam keluarga, menghargai hak milik sendiri dan juga menghargai uang pinjaman sebagai milik anggota yang lain yang wajib dikembalikan secara teratur.
  2. Anggota yang keluar atau menghilang : berkurangnya anggota membuat penyetoran simpan-pinjam juga berkurang.
  3. Anggota tidak meminjam : ada anggota yang berpendapat bahwa meminjam berarti mengutang sehingga tidak mau meminjam. Atau merasa bahwa masalah keuangan keluarga sudah cukup sehingga tidak perlu meminjam atau mengutang lagi. Pendapat seperti itu harus dibalik. Dengan meminjam berarti mengembangkan keuangan arisan karena bunganya lebih tinggi dari pada bunga bank. Misalnya saya meminjam 1 juta yang diangsur 10 kali, dalam 10 bulan saya menyumbangkan Rp 110.000,- apalagi pinjaman yang lebih besar dari itu sumbangan kepada keuangan arisan semakin besar. Sedangkan bila ditabung di bank bunganya hanya beberapa ribu saja, itupun terkena potongan administrasi dan pajak.

Pendapat bahwa uang saya cukup tidak perlu pinjam, itupun tidak benar. Ada jenis pinjaman di dalam koperasi yang disebut pinjaman kapitalisasi. Meminjam untuk menambah saham. Kalau saham saya baru 1 juta padahal saya merencanakan suatu waktu saya akan meminjam 10 juta, maka saya dapat meminjam 3 juta yang tidak dipakai tetapi disimpan kembali pada arisan. Dengan demikian setelah saya melunaskan pinjaman, saham saya menjadi 4 juta lebih yang berarti saya berhak meminjam lebih dari 10 juta.

Maka bagi anggota yang belum pernah meminjam berpikirlah bahwa dengan meminjam anda berjasa mengembangkan keuangan arisan dan bukan sebaliknya. Dengan meminjam uang anda di arisan tidak hilang, melainkan tetap, bahkan bertambah.

4.  Pinjaman Konsumtif : sejauh pengamatan saya pinjaman lebih banyak untuk habis dipakai entah untuk pendidikan anak atau tujuan lain. Padahal bila dipinjam untuk dijadikan modal usaha, maka uang yang dipinjam tidak akan habis terpakai melainkan sebaliknya akan berbuah dan menghasilkan yang lebih banyak lagi. Kita masih hidup dalam budaya konsumtif dan belum berpikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Kita dididik untuk memiliki mental pekerja dan bukan untuk menciptakan lapangan kerja.

4.  Tabungan Pendidikan Anak

Tabungan pendidikan anak memang mempunyai tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya mungkin tetap diserahkan kepada kebebasan anggota untuk menjalankannya atau tidak. Karena kembali kepada asas bebas dan sukarela. Bila anggota dengan bebas dan sukarela memilih produk ini berarti tinggal komitmennya saja untuk memenuhi kewajibannya. Tetapi bila keputusan itu diambil dengan sistem voting maupun aklamasi lalu pelaksanaannya mengikuti suara terbanyak, maka anggota yang tidak rela akan selalu merasa tertekan atau semacam gangguan batin yang menggesek-gesek hatinya.

Karena produk ini sudah berjalan dan semua anggota sudah mengikutinya, hanya besar-kecilnya mungkin tidak perlu dipatok minimal atau maksimal Rp 10.000,- Bagi mereka yang pada bulan tertentu tidak mampu membayar dana pendidikan, tidak perlu merisaukan pengurus. Karena produk ini hanya program sampingan yang tidak mengganggu system pembukuan. Dan sebaliknya bila ada anggota yang ternyata pada bulan tertentu mampu membayar 5 atau 10 kali lebih banyak, tetap diterima, karena juga tidak mengganggu system pembukuan. Hasil akhirnya itulah yang akan dilihat pada akhir tahun atau akhir periode, siapa-siapa saja yang mempunyai simpanan pendidikan paling banyak atau paling sedikit dengan penghasilan bunga yang tentu lebih besar atau lebih kecil pula.     Produk ini baik dan berguna, tetapi kita juga harus bisa berbelarasa atas keterbatasan ekonomi yang dialami oleh saudara-saudari para anggota di rumah.

Saya sendiri sangat mendukung program ini karena bagi pendidikan dan masa depan anak, saya tidak bisa berspekulasi secara main-main. Setelah mengikuti pendidikan dasar di koperasi TAKERA (Tabungan Kesejahteraan Keluarga), saya mendapat pengetahuan baru untuk mengelola dana yang sedikit. Salah satunya kami menyisihkan nilai tertentu secara tetap untuk pendidikan anak. Pilihan untuk tabungan yang aman saat ini adalah Koperasi kredit dan Asuransi modern atau Unit Link. Percayakanlah uang kita yang sedikit ini kepada mereka yang ahli, sampai saatnya kita akan memetik hasilnya. Sedangkan Bank, bila uang kita banyak mungkin tidak begitu masalah, tetapi karena uang kita sedikit maka habis dikuras oleh beban administrasi dan pajak, sehingga pendapatan bunga menjadi minus persen.

5. Tabungan Pernikahan Dini

Ini sebuah produk solidaritas atau kesetiakawanan antara kita. Jadi bukan saja dia – anggota yang akan melangsungkan pernikahan, tetapi merupakan ‘gawe’ bersama. Secara ekonomis kita menyerahkan bagian kita sesuai kesepakatan bersama. Dan juga secara moril maupun dalam bentuk bantuan yang lain, misalnya tenaga dan keterlibatan di dalam urusan adat serta liturgi di gereja.

Patut kita sayangkan bahwa ada anggota yang sudah cukup lama menikah, tetapi belum sepenuhnya menerima haknya yang wajib kita berikan. Sebaiknya tunggakan ini segera kita penuhi, karena bila kita tunda, tabungan pernikahan dini tidak akan banyak manfaatnya. Di depan mata kita sudah ada dua – tiga pasangan yang semakin siap untuk ke pelaminan. Tanggungan kita kecil, tetapi jangan sampai yang sedikit ini pun terlewatkan.

Kita pantang seminggu tidak makan daging itu baik, karena berguna mengurangi kolesterol. Dan yang penting kewajibanku beberapa puluh ribu kepada saudaraku yang akan menikah tidak dilalaikan. Tidak merokok selama seminggu itu sehat, karena paru-paru dan darahku semakin bersih. Dan yang penting sumbanganku untuk saudaraku yang akan menikah saya serahkan dengan tulus tanpa menggerutu.

Mempertegas Komitmen

Semua produk yang diuraikan baik adanya karena dari anggota – oleh anggota dan untuk anggota. Yang penting adalah komitmen – kemauan baik untuk menepatinya secara sadar, rela dan bertanggungjawab. Tidak terpaksa, tidak menggerutu, tidak tulus, karena bila hal itu terjadi, yang pertama rusak adalah hati dan perasaan Anda sendiri. Dan bila perasaan yang tidak puas itu menyebar menjadi virus, maka dalam paguyuban kita akan terjadi kasak-kusuk yang merongrong ketenangan dan keberlangsungan paguyuban ini. Kemauan baik untuk memenuhi semua kewajiban secara tulus itu merupakan kekuatan yang membuat paguyuban tetap kokoh dan bertahan.

 Keterlibatan kita dalam paguyuban ini sangat besar artinya. Kita tidak pasif menunggu. Ada pendapat yang dipandang baik untuk semua, kemukakan dan kita diskusikan. Ada kemampuan yang selama ini Anda sembunyikan akan tetap menjadi sampah dalam diri Anda. Tetapi bila anda abdikan dalam paguyuban akan berubah dari sampah menjadi emas. Ada ungkapan : “kekayaan harta yang anda bagikan akan habis, tetapi kekayaan ilmu yang anda bagikan akan menjadi semakin banyak”. Maka jangan biarkan kekayaan intelektual Anda terkubur di dalam diri Anda. Seseorang ilmuwan atau seniman menjadi terkenal bukan karena ia pintar menyembunyikan kemampuannya, melainkan karena ia pandai mengaktualisasi diri dan menunjukkan kemampuannya kepada orang lain.

Belajar !

Credit Union atau Koperasi simpan – pinjam mempunyai semboyan :

Koperasi Kredit dimulai dari PENDIDIKAN

Berkembang melalui PENDIDIKAN

Dikontrol melalui PENDIDIKAN

Dan bergantung pada PENDIDIKAN.

 Kita semua awam di dalam koperasi kredit, maka kita harus mampu belajar dari pengalaman dan kesalahan. Pengalaman adalah guru yang baik dan kesalahan adalah guru yang terbaik. Tetapi bila kita pasif kita tidak pernah akan tahu kita akan benar atau salah. Maka harus berani memulai untuk terlibat dan belajar.

Di dalam paguyuban ini pun saya mengajak saudara-saudara anggota muda yang selama ini masih diam, mulailah aktif terlibat jangan takut salah, karena di dalam kesalahan anda akan belajar lebih banyak lagi.

 Anggota

1. Keanggotaan yang ada kita pertahankan dan seharusnya ditambah atau ditingkatkan.

2. Anggota-anggota yang selama ini pasif tolong didekati lagi dan diberi harapan.

3. Saudara-saudara kita – kenalan yang tidak aktif lagi di kelompok arisan yang lain bisa diajak untuk bergabung dengan memperkenalkan produk arisan yang baru.

4. Keluarga-keluarga yang berasal dari kampung yang lain yang tidak aktif di dalam kelompok arisan desanya coba diperkenalkan produk kita terutama simpan – pinjam.

Usaha Sendiri / Menjadi Majikan atas diri sendiri .

Jenis peminjaman yang selama ini terjadi mungkin lebih banyak ke pendidikan dan kesejahteraan. Berarti peminjaman uang belum banyak anggota yang menjadikannya sebagai modal usaha.

Saya merasa bila tidak ada keberanian untuk memulai usaha yang lain dan hanya berharap dari gaji bulanan, kita akan menghadapi masalah-masalah hidup yang semakin rumit. Keuangan sekolah anak-anak semakin tinggi setiap tahun, bahan-bahan kehidupan pokok dan lain-lain semakin mahal, sementara pendapatan dari gaji berjalan di tempat.

Para ibu yang lebih banyak mengurus rumah tangga, saya sarankan mempunyai usaha untuk menunjang perekonomian keluarga. Jangan berprinsip bahwa kalau kita memulai usaha yang sama akan mematikan usaha tetangga. Tuhan memberikan rezeki kepada manusia yang berusaha.

Saya mempunyai catatan beberapa alternatif usaha :

  1. Pembuatan kue kering : bila belum mempunyai keahlian itu, saya akan mengundang kenalan yang bisa membantu kita memberikan pelatihan kepada ibu-ibu. Buku-buku resep pun sangat banyak, maka asal ada kemauan pasti ada jalan.
  2. Tukang cukur rambut : Setiap orang mempunyai kepala yang minimal sebulan sekali minta dirapikan. Sejauh pengamatan saya di tempat-tempat cukur, selalu ada pengunjung bahkan sampai antri. Modalnya Cuma 2 cermin agak besar dan gunting beberapa jenis. Maka mulailah gantung cermin dan pasang tarif.
  3. Minuman Coca Cola dan jenis yang lain : Modalnya tidak besar, tetapi keuntungannya bisa 100 – 150 %. Asal tempatnya strategis !
  4. Makanan kecil : makanan jenis Chiki enak dan sangat disenangi anak-anak tetapi sekaligus menjadi racun di dalam tubuh mereka, karena penyedap dan pengawet yang tidak selalu aman. Carilah yang aman untuk anak-anak. Seorang ibu di Grogol, setiap hari jualan jus buah di sekolah. Pagi jam 07.00 – 13.00 bisa habis 100 bungkus lebih yang dijual dengan harga 2.000,- sampai 3.000,- Saya yakin keuntungannya di atas 100%.
  5. Agen Koran : konsumsi masyarakat Jakarta akan koran-koran cukup tinggi. Pilihlah Koran yang harganya terjangkau dan banyak dikonsumsi masyarakat kecil, misalnya : Berita Kota, Pos Kota, Lampu Merah, Seputar Indonesia, Koran Tempo dan Kompas.
  6. Sub agen Kompor dan Briket batubara: dengan kelangkaan minyak tanah, pemerintah berusaha mengalihkan masyarakat ke bahan bakar gas dan batu bara.
  7. Membuka Rumah Makan : Selama saya mengikuti arisan, makanan para ibu semuanya serba enak. Mengapa tidak memulai sebuah WARAK (Warung Atakore)? Tidak usah mimpi harus ada jagung titi, kacang tanah dan tuak. Wajar-wajar saja ! Kita hidup di Jakarta, maka ikutilah selera Jakarta. Sayur asem, tempe goreng dan sambal. Mengapa tidak berani? Sejauh saya menjadi konsumen Warteg, Rm. Betawi, Rm. Sunda, Rm. Padang dan Lapo Tuak, yang ramai dikunjungi adalah yang : sederhana tapi enak, tempatnya bersih, layanannya ramah, harganya murah.

Mengapa Warteg-warteg bertumbuh dengan sangat cepat? Mereka mempunyai cita-cita dan komitmen, setiap satu warteg dalam masa 6 bulan harus mendirikan satu warteg baru.

Ada sangat banyak pilihan usaha, tetapi kita dididik untuk bermental pencari kerja bukan pencipta kerja. Orang-orang China mempunai prinsip hidup yang lain, mereka malu bekerja pada orang lain, maka mereka berlomba-lomba berusaha untuk menciptakan usaha sendiri. Mereka berani berspekulasi dengan menggadaikan barang-barang berharganya untuk mendapatkan modal usaha, misalnya sertifikat rumah. Mereka tekun – tidak main-main atau coba-coba, mereka hidup hemat bukannya kikir, melainkan berusaha untuk mengembalikan modal usahanya agar tidak hilang. Keuntungan usaha mereka tidak gunakan untuk pesta pora atau berjudi, melainkan ditabung atau diinfestasikan lagi di dalam usaha-usaha yang lain. Maka dalam waktu yang relatif singkat mereka muncul sebagai orang kaya. Sementara di pihak lain, kita puas dengan pekerjaan dan hasil yang ada. Bila ada kelebihan kita membeli berbagai baju, sepatu dan kebutuhan konsumtif lain, dan tidak jarang juga berpesta. Maka kita tidak pernah memiliki investasi dalam arti sesungguhnya. Kita menginvestasikan tenaga kita yang habis dibayar pada akhir bulan, dan pada suatu ketika karena usia, modal tenaga kita tidak dipakai lagi, kita kembali ke titik nol, gigit jari, pasif lalu menunggu Tuhan memanggil.

Hambatan yang sangat saya rasakan adalah hambatan budaya. Kita malu menjadi pedagang di pinggir jalan. Kita paling bangga disebut sebagai karyawan dan malu disebut sebagai pengusaha. Pendapat bahwa orang Lembata tidak bisa menjadi pedagang adalah mitos. Yang benar adalah kita dibesarkan dalam budaya yang mengagung-agungkan pekerjaan kuli. Biarpun saya dan Niko kalau berangkat kerja berpakaian rapih tetapi tetap kuli. Bekerja pada orang untuk mendapat upah. Maka saya mempunyai mimpi membangun usaha sendiri. Hambatan kedua, adalah mental enak – santai. Kita mudah berpuas diri dan lebih nyaman menghabiskan waktu untuk merokok, main kartu dan menonton televisi. Hambatan ketiga adalah takut gagal. Kita takut dengan berbagai kegagalan ‘maya’ yang kita ciptakan dalam angan-angan dan menghalangi langkah kita. Kegagalan itu tidak ada, tetapi kita buat dia ada di dalam pikiran kita, lalu menghalangi langkah kita untuk memulai secara nyata. Hambatan  keempat adalah modal. Tanpa modal sulitlah untuk memulai. Ada di antara kita yang memiliki modal sangat besar, tetapi menanamnya dalam tanah. Sertifikat tanah, BPKB mobil dan motor itulah modal-modal mati yang perlu dihidupkan, ditukar menjadi uang  sehingga dapat dijalankan dalam bentuk usaha.

Untuk itu marilah kita merajut mimpi-mimpi yang positip di dalam diri kita. Mimpi positif membuka jalan pikiran kita untuk mewujudkannya, sedangkan mimpi negatif mematikan daya kreatif  kita dan membuat kita menjadi penonton yang pasif.

Mereka yang bermimpi positif akan selalu dapat menemukan jalan keluar di dalam berbagai kesukaran hidup. Sedangkan mereka yang bermimpi negatif akan selalu menempatkan banyak hambatan sehingga persoalan hidup yang sangat sederhana pun seakan-akan merupakan bencana besar, sehingga mereka terpaksa menyerah.

PERTANYAAN REFLEKSI

  1. Bagaimana pendapat Anda terhadap Arisan Lejap Nujan saat ini?
  2. Produk arisan mana yang menurut anda paling penting dan mana yang kurang penting? Berikan alasan !
  3. Apa harapan atau impian Anda terhadap arisan Lejap Nujan 5 tahun yang akan datang?
  4. Apa sumbangan Anda untuk menjaga dan memajukan paguyuban arisan ini dengan berbagai produknya?
  5. Ekonomi keluarga sering menjadi persoalan bagi kita yang mempunyai gaji pas-pasan. Usaha apa yang Anda ingin jalankan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut?
  6. Untuk mewujudkan keinginan itu apa yang Anda harapkan dari paguyuban arisan ini?

 ****

Makalah ini dibawakan dalam acara refleksi kelompok Arisan Lejap Nujan,  pada tanggal 31 Januari 2006 di Taman Mini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s