PERCAKAPAN DIBALIK KANTONG KOLEKTE

Setelah misa malam paskah, petugas kolekte mengeluarkan seluruh isi kotak kolekte yang sebulan sebelumnya sudah dibagikan kepada umat. Satu persatu isi kotak dikeluarkan. Ada uang kertas dari seribu perakan sampai seratus ribuan, koin dari 10 perakan sampai limaratusan perak, sampai jenis cek dengan nilai amat besar, kemudian dimasukan kedalam kantung yang telah disediakan. Maka bertemulah bermacam-macam uang dengan nilai beragam, dari yang recehan kelas teri sampai yang kelas paus. Kemudian terjadilah percakapan diantara koin seratusan perak dan uang kertas seratus ribuan.

Sembari mengacungkan jari telunjuknya, uang Rp 100.000 menghardik : “Hei bung, ngapain masuk kesini! Sudah dekil, kumal, karatan dan berbau pula, kok berani-beraninya bergabung disini. Bung seharusnya tahu diri: kamu itu siapa? Nilaimu kecillll….paling digunakan untuk bayarin pak ogah dipinggir jalan yang sibuk ngatur jalanan macet, pengamen didalam bis kota, pengemis pinggir jalan atau untuk ngasih joki yang temenin boss di jalur three in one. Ya…… paling banter dipakai buat beli permen. Dasar (maaf) guoblok, uang murahan, tak bermutu. Kasih tahu tuanmu yang memasukanmu kedalam kotak APP tadi, kalau ngasih yang bener. Kalau hanya kamu yang diutus kesini, itu namanya penghinaan, tidak iklas!”.

Dengan agak gugup namun tetap santai uang Rp 100 perak menjawab: “Tumben…… nyasar kesini. Saya tahu kok… kamukan lebih suka nemenin boss kalau lagi bermalam di hotel berbintang, shopping di mall elite, atau dinner di restoran mewah. Kamu selalu bersama boss kalau dia lagi rileks di bar, diskotek atau arena dugem ekslusif. Saya tahu kamupun sering dipakai bos untuk memuaskan nafsu pejabat guna melicinkan proses perijinan usaha. Saya tak iri kok. Itu hak kamu. Lagian kan sah-sah saja ketika kita masih sama-sama uang RI. Dan lagi, orang yang mengutusku masuk kekotak ini adalah saudaraku yang bener-bener mampunya segini. Walau begitu dia iklas kok mamasukanku kekotak ini. Sedikitpun dia tidak bermaksud menghina. Jadi kamu tak berhak mengklaim iklas tidaknya pemberian saudaraku, karena iklas tidaknya pemberian seseorang itu ada dihati orang itu, bukan dihati siapa-siapa, bahkan dihati kamu sekalipun. Bukankah janda miskin yang mendermakan uang recehannya kepada Yesuspun tidak diomeli, bahkan kemudian disayangi?”

Uang Rp 100 perakan kemudian melanjutkan ……….. Saya denger dari romo Gimin di Gereja Cinta Kasih, kalau kamu pasti nggak bisa nolongin boss yang nyasar kejalan neraka. “Lho, kenapa romo menghina kami demikian?” tanya uang Rp 100.000 penuh rasa ingin tahu. “iya donk” jawab uang Rp 100. Soalnya, lanjutnya pula, menurut romo, kamu kan paling  jarang ikut boss ke gereja. Lebih parah lagi, kamu selalu mengelak untuk wakilin boss masuk ke kotak kolekte. Tiap kali disodori kantong kolekte, selalu saja saya yang disuruh masuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s